Family Life

Beauty

Beauty Budget

Cerita Sore

Lifestyle

Couple Trip

Personal

Fashion

Japan Travel Diary #2: Shibuya, Omotesando & Ebisu


Pagi yang cerah di Ebisu. Matahari memberi semangat pada aku dan suami untuk segera mengeksplor dari Ebisu, yang ternyata sangat tenang, sepi dan jauh dari lokasi turis. Cocok untuk yang suka tempat damai dibandingkan yang bising dan ramai, cocok juga untuk berlibur bersama keluarga.

Untung lah lingkungan Ebisu damai dan adem, tidak mengecewakan besar lengan berkuasa juga untuk aku yang putus asa alasannya ialah liburan dengan anak yang sedang sakit.

Hari kedua di Tokyo, aku berencana mengajak Abenk ke tempat Shibuya.

Oh ya, ini pertama kalinya Abenk ke Jepang sedangkan aku ketiga kalinya. Hari itu hari Sabtu. Kami bangkit lebih pagi dari hari Sabtu biasanya, alasannya ialah semangat ingin mengeksplor Tokyo. Sambil menuju Shibuya yang letaknya hanya 1 stop dari stasiun Ebisu, kami juga janjian dengan sepupu kami yang sedang sekolah di Tokyo.


Kondisi Aura sudah jauh lebih membaik, tapi perlu usaha ketika memakaikan Aura baju soalnya Aura nggak mau pakai kaos kaki (!) dan nggak mau didobel-dobel (!!). Untung kepikiran bawa selimut dari Maison Elmesa, tidak mengecewakan untuk menghangatkan tubuhnya yang masih kurang fit.

Read more: Japan Day #1 | Traveling With A Sick Toddler

Saya mengantar Abenk melihat patung Hachiko, kemudian kami mampir sebentar ke Uniqlo, H&M, dan berakhir di Loft alasannya ialah kami beli beberapa perintilan rumah dari MoMA yang dijual di Loft. Tak lama, Andri, sepupu kami tiba dengan senyum lebar dan memeluk kami.

Pertemuan ini tentunya sudah direncanakan jauh-jauh hari, mungkin dari 4-5 bulan yang kemudian waktu kami sama-sama sedang di Jakarta. Siang itu kami diantar oleh tour guide kami alias Andri untuk makan siang di Sushi Zanmai. Info lengkap Sushi Zanmai dapat klik di sini.



Aura semalam sudah sempat makan kentang goreng, siang itu Aura ngemil strawberry Jepang yang manis dan juicy banget! Lumayan lah, yang penting ada yang masuk ke perut hehe.

Sepanjang perjalanan, Aura nggak mau duduk di stroller. Mungkin alasannya ialah masih kurang fit dan masih ajaib dengan segalanya, terutama soal cuaca. Mana Shibuya kayak pepes kan, jikalau selesai pekan? Ini berlanjut terus hingga kami ke Omotesando.

Kami berkeliling dari ujung ke ujung Omotesando, Aura aku gendong terus (btw, aku hari itu lagi gak bawa gendongan). Kalau Abenk yang gendong, Aura ngamuk-ngamuk. Ya paling cuma bertahan 5-10 menit.


Alhasil dari pagi-siang-malam, Aura aku gendong terus hingga totalnya 8 jam. Mana sebentar-sebentar Aura minta menyusu, akhirnya aku menyusui Aura di pinggir jalan Omotesando yang ramai kayak pepes.

Untung ada Andri yang bantuin menutupi kami dengan syal semoga dada dan perut aku gak masuk angin hahaha!

Di balik senyuman, hati berteriak "ENCOKKK!!!!"
Menjelang sore, aku udah mulai lemas dan tangan rasanya gemetar. Akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menghangatkan tubuh di Chun Tsui Tang ditemani Andri. Sedangkan Abenk aku kasih waktu untuk jalan-jalan untuk pilih-pilih sepatu.

Lumayan deh, aku nunggu selama 1 jam lebih dan Aura tertidur pulas di pangkuan saya. Setiap ngobrol sama Andri, kepala aku rasanya mulai ngawang alasannya ialah capek jalan-jalan dan gendong Aura non-stop.

Tapi alasannya ialah kami duduk di Chun Tsui Tang untuk istirahat, Aura juga jadi dapat tidur pulas. Udah mulai keliatan sih perkembangannya dibandingkan kemarin. Aura juga sering tidur, mungkin alasannya ialah lemas dan efek obat yang dikasih dokter. Bagaimana pun, yang penting dalam 2-3 hari ke depan Aura sudah harus fit.

Karena sudah malam, aku dan Abenk mengajak Andri untuk menginap di apartemen kami. Benar kan, jadi malah seru alasannya ialah ada Andri! Nahhhh, mumpung ada Andri yang dapat ajak Aura main, aku curi-curi waktu untuk keluar sebentar walaupun hanya ke Family Mart.

Mungkin alasannya ialah capek banget dan suntuk nggak dapat menikmati liburan, I NEED MY ME-TIME! Awalnya (seperti biasa) Abenk nggak baiklah jikalau aku pergi sendirian, tapi ini Jepang. Bukan di kota besar yang tingkat kriminalitasnya tinggi. Kaprikornus aku pergi keluar bermodal dompet dan kamera, menangkap suasana Ebisu Garden Place pada malam hari yang dihiasi lampu-lampu.

Akhirnya aku tidak mengecewakan usang tuh, muter-muter di drugstore dan Family Mart hanya untuk lihat-lihat. Soalnya dari kemarin belum sempat lihat-lihat kan, apalagi seharian hanya gendong bocah yang lagi nggak yummy badan.


Dua hari pertama, aku nggak banyak foto-foto alasannya ialah Aura masih nempel kayak perangko. Belum dapat menikmati liburan juga alasannya ialah ngurus anak sakit. Tapi malam itu ditutup dengan indah alasannya ialah sempat curi waktu me-time dan menikmati suasana Ebisu yang rasanya nggak ibarat di Jepang.

Bagaimana kelanjutan dongeng liburan aku berikutnya? Stay tuned!

 Matahari memberi semangat pada aku dan suami untuk segera mengeksplor dari Ebisu JAPAN TRAVEL DIARY #2: SHIBUYA, OMOTESANDO & EBISU
*********************************************************

READ MORE
Japan Day #1 | Traveling With A Sick Toddler
Japan Day #2 |  Shibuya & Omotesando
Japan Day #3 | Gotemba
Japan Day #4 | Yoyogi Park & Shimokitazawa
Japan Day #5 | Daikanyama & Mori Art Museum
Japan Day #6 | Bye Tokyo, Hello Osaka!
Japan Day #7 | Osaka Aquarium Kaiyukan & Tempozan Park
Japan Day #8 | Kyoto & Arashiyama
Japan Day #9 | Last Day in Osaka

Japan Travel Diary #1: Traveling With A Sick Toddler


Bisa dibilang, liburan kali ini ialah liburan ‘balas dendam’ sebab aku dan suami sudah usang sekali nggak berlibur yang santai dan cukup lama. Tahun kemudian kami ‘hanya’ curi-curi waktu saja untuk weekend getaway atau keluar kota, hanya sekedar refreshing bukan liburan yang nampol banget!

Setelah perencanaan yang cukup matang dari segi finansial, hasilnya kami dapat pergi ke Jepang selama 10 hari dan mengunjungi beberapa tempat yang sudah aku idam-idamkan. Semua persiapan sudah beres dan cukup matang, tapi ternyata tiga hari sebelum kami berangkat.. Aura demam tinggi dan batuk pilek!

Waduh, bayanginnya aja udah repot. Lebih sedihnya lagi, Aura tertular oleh orang-orang yang tiba ke rumah saya, lagi batuk dan tidak ada yang pakai masker. Miris.

Read more: Unfocus

Ya sudah terlanjur tertular, mau bagaimana? Selain menciptakan Aura nyaman dan tenang, kami juga pergi ke dokter untuk minta resep obat. Kalau lagi sakit, Aura sama aja rewel dan mogok makan persis ibarat belum dewasa lainnya. Ditambah dengan muntah sebab tenggorokannya yang gatal. Kalau malam suka muntah dan susah tidur.

Sebelum pergi ke bandara Soekarno Hatta, aku dan Abenk sempat berdoa di kendaraan beroda empat untuk keselamatan dan kesehatan kami dan juga orang-orang yang kami tinggalkan selama liburan di Jakarta.

“Sayang, pokoknya apa pun yang terjadi, kita harus siap ya.”

Satu kalimat statement yang menciptakan aku berpikir dan juga mempersiapkan diri dengan hal-hal di luar planning kami.

“Iya, sayang,” jawab aku sambil mewaspadai apa yang aku ucapkan.

***

Selama di pesawat, Aura susah tidur dan resah banget. Saya dan suami pun ikut terjaga sebab Aura nangis terus, batuk-batuk terus, kasian banget pokoknya. Dua jam sebelum mendarat di Haneda, kami bertiga gres dapat tidur agak lebih nyenyak. Alhasil hingga di airport, kami tidak mengecewakan zombie sebab kurang tidur. Aura rewel nggak mau ina-ini-itu. Di stroller gak mau, dipakaiin baju dobel nggak mau, kaos kaki nggak mau, diturunin supaya jalan kaki sendiri nggak mau.

Lebih riwehnya lagi, Aura nangis-nangis pas ditaruh di stroller, padahal kami harus naik kereta untuk early check-in di apartemen tempat kami akan tinggal selama 6 hari. Tau sendiri kan, jikalau taksi di Jepang muahal banget tarifnya?

Akhirnya aku gendong-gendong deh selama pindah-pindah kereta dari Haneda-Shinagawa-Ebisu. Sampai di stasiun Ebisu, Aura teriak-teriak lagi nggak mau duduk di stroller. Tubuh kami masih menyesuaikan diri dengan suhu di Jepang yang hambar dan anginnya nusuk. Aura masih kaget dengan semuanya, plus smartphone aku mendadak mati padahal semua kebutuhan ibarat peta, alamat, arahan untuk masuk ke apartemen ada di smartphone saya.

Setelah 15-20 menit mencari-cari apartemen kami dan nyasar-nyasar, hasilnya kami hingga juga. Untung ada orang di sekitar situ yang membantu kami menemukan alamat apartemen kami.

Sampai di apartemen, kami masih kedinginan dan lupa nanya ke host kami bagaimana menyalakan heater! Hahahaha! Kebetulan host kami lagi business trip, jadi agak susah menghubunginya. Otak aku pun eksklusif ingat seorang sahabat usang yang tinggal di Jepang, eksklusif deh aku video call teman saya, Cristy, yang kebetulan telfonnya eksklusif diangkat. Thanks ya Cristy!



Rencana kami untuk jalan-jalan di hari pertama pun gagal, kami bertiga teler sebab kurang tidur. Tapi masih lebih teler Aura yang setiap batuk niscaya nangis. Akhirnya Abenk memutuskan semoga kami istirahat saja di apartemen, paling jikalau mau keluar pun, Abenk yang pergi untuk beli makan. Untungnya kami menginap di tempat Ebisu yang nggak seramai Shibuya dan Shinjuku, akrab apartemen kami juga banyak convenient store dan restoran.

Menjelang malam, Abenk keluar untuk mencari makan. Percaya lah, Aura belum makan dengan benar selama 2-3 hari sebab lagi sakit. Mama-nya apakabar?

Frustasi.

Serius. Frustasi, saudara-saudara!

Aura nggak mau makan, belum buang air besar, lemes, rewel. Mogok ngomong juga lho selama 2-3 hari. Boro-boro ngomong, “Mama” atau “Nggak mau” – beneran nggak ngomong sama sekali! Senyumannya hilang, nggak ada ketawa dan mulut tengil yang selama ini bikin aku ngakak-ngakak.

Kayak film Trolls gitu, yang tadinya warna-warni.. Sekarang jadi abu-abu. #sedih #pilu

Saya pun berkali-kali googling perihal ‘liburan dengan anak sakit’, ‘anak sakit ketika liburan’ dan ‘traveling with a sick toddler’ – iya, aku benar-benar di tahap putus asa berat. Saya hingga gak percaya aku baca tips menghilangkan jerawat dan bekas-baca tips menghilangkan jerawat dan bekasin artikel tips menghilangkan jerawat dan bekas macam-macam yang berafiliasi dengan anak sakit selama liburan.

Menjelang malam, Abenk pun cepat-cepat keluar dari apartemen untuk beli cemilan. Saya titip pesan, “Sayang, tolong cariin kentang goreng. Sama beliin cemilan yang banyak, apa aja deh, pokoknya yang banyak dan gambarnya lucu-lucu. Hati-hati ya.”

Kalau soal cemilan, Abenk memang jagoannya. Sekitar satu jam kemudian, Abenk pulang membawa dua kantong KFC dan satu kantong besar yang isinya cemilan imut-imut yang bentuknya terlalu lucu hingga gak rela untuk di makan. Saya sediakan piring di meja, kemudian kami menjajakan semua harta karun yang Abenk bawa hahaha.

Aura eksklusif tertarik melihat cemilan unyu-unyu, tangannya eksklusif tertuju pada biskuit manis-manis. Semenit kemudian, Aura eksklusif ambil kentang goreng yang bentuknya gendut-gendut (KFC, kau penyelamatku!) dan Aura habis seporsi kentang lho, ibu-ibu!

Setelah makan, Aura jauh lebih segar dan mulai joget-joget kecil lagi.
Begitu aku lihat Aura mau makan kentang goreng dengan lahap, aku duduk di sebelah Abenk dan tanpa sadar air mata bercucuran satu per satu (ini ngetiknya aja sambil berkaca-kaca).

Rasa lelah, frustasi, bingung.. Semuanya eksklusif hilang begitu Aura mau makan. Abenk di sebelah aku ngelus-ngelus punggung, “Udah kau jangan terlalu mikirin.”

Biarpun aku keseringan nyantai, tapi problem kayak gini juga bikin aku putus asa lho. Sama kayak ibu-ibu lain di luar sana hehe. Setelah selesai makan, aku elus-elus Aura sambil berdoa, “Semoga makanannya diterima ya Nak, semoga nanti malam nggak muntah ya Nak.”

Beneran lho, malamnya Aura tidur lebih nyenyak dan nggak muntah! Fiuh, malam pertama di Tokyo begitu berwarna. Rasa excited, deg-degan dan perasaan tak sabar menyelimuti aku malam itu.

Percaya lah, sempat beberapa kali terlintas di pikiran aku semoga membatalkan liburan kami atau beli tiket pulang jikalau Aura tak kunjung membaik. Soalnya aku teringat dongeng seorang sahabat berjulukan Ajeng, yang hasilnya mempercepat liburannya selama di Jepang sebab putrinya demam tinggi. Niat liburan sekitar 8 hari, hasilnya di hari kelima Ajeng dan putrinya pulang ke Jakarta.

Saya tau aku nggak sendirian. Banyak sekali teman-teman di luar sana yang ikut menyemangati, memberi derma dan doa semoga Aura cepat sembuh dan kami juga sehat-sehat selama liburan. Memang jikalau lagi masa-masa sulit begini, rasanya tuh dunia mau runtuh (ini yang ngomong Andra versi lebay hihihi). Saya percaya semua akan berakhir, terima kasih buat yang kemarin mendoakan Aura dan mengikuti terus dongeng liburan kami.

Drama belum berakhir, selanjutnya akan aku ceritakan di hari kedua! Thank you for your endless support! You know who you are! xoxo

 sebab aku dan suami sudah usang sekali nggak berlibur yang santai dan cukup usang JAPAN TRAVEL DIARY #1: TRAVELING WITH A SICK TODDLER
*********************************************************

READ MORE
Japan Day #1 | Traveling With A Sick Toddler
Japan Day #2 |  Shibuya & Omotesando
Japan Day #3 | Gotemba
Japan Day #4 | Yoyogi Park & Shimokitazawa
Japan Day #5 | Daikanyama & Mori Art Museum
Japan Day #6 | Bye Tokyo, Hello Osaka!
Japan Day #7 | Osaka Aquarium Kaiyukan & Tempozan Park
Japan Day #8 | Kyoto & Arashiyama
Japan Day #9 | Last Day in Osaka

Japan Travel Diary #3: Gotemba Premium Outlets


Pergi ke Gotemba Premium Outlets sebenarnya tidak ada dalam rencana liburan kami selama di Jepang. Cuma ya namanya termakan dengan kata ‘premium outlets’ jadinya aku dan Abenk tetapkan untuk ke Gotemba dibandingkan ke Disneyland. Soal Disneyland, mungkin dapat lain kali ketika Aura sudah agak besar jadi dapat main lebih puas.

Ternyata dari tempat Shibuya, nggak susah untuk ke Gotemba Premium Outlets. Saya berpatokan dengan jadwal bis yang berangkat dari Shinjuku Station (cek jadwal bis di sini).

Dari Shinjuku Station ke Gotemba menempuh waktu sekitar 90-120 menit, tergantung kondisi kemudian lintas ketika kita berangkat. Sebetulnya dapat saja naik kereta untuk ke Gotemba, tapi aku menentukan mengeluarkan uang ekstra untuk naik bis biar kami bertiga dapat tidur lebih nyenyak di bis.

Karena jikalau di kereta mungkin harus ganti-ganti stasiun dan mungkin aja tidurnya terlalu pulas – tau-tau kelewatan! Hahaha!



Benar saja, Aura dan Abenk tidur pulas selama perjalanan. Sampai di Gotemba Premium Outlets, penampakannya masih agak sepi. Mungkin ini juga alasan kenapa jadinya Aura mau duduk anteng di stroller. Hore!

Kami keluar-masuk setiap toko yang ada, tapi anehnya.. Nggak ada satu pun barang yang ‘greget’ untuk dibeli.

Read more: Japan Day #2 | Shibuya & Omotesando

Ada sih, sepatu yang Abenk suka. Tapi ukurannya nggak ada. Gituuuu terus. Akhirnya kami tidak mengecewakan usang di toko mainan Bandai (ya elah hahaha) dan borong beberapa action figure Star Wars yang tidak dijual di Indonesia. Wah, rasanya senang banget!


Menurut aku cukup worth it kok ke Gotemba. Selain dapat belanja barang-barang branded dengan harga yang cukup terjangkau, kami juga menikmati pemandangan Gunung Fuji yang tertutup salju. Cantik sekali! Beda banget dengan pengalaman pertama aku waktu pertama kali melihat Gunung Fuji ntah berapa tahun lalu. Kali ini, indah dan anggun sekali!

Lebih hebatnya lagi, kemudahan ibarat baby room, nursing room, ramp, hingga tempat permak baju ada semua di Gotemba Premium Outlets. Makara yang kesini bawa bayi, anak kecil hingga orang bau tanah pun nggak ada dilema sama sekali.

Kami pun makan siang di food court sambil menikmati pemandangan sekitar. Aura sudah jauh lebih fit dibanding kemarin, sudah mau duduk di stroller dan mau jalan sendiri. Sesekali masih minta digendong tapi nggak serewel itu. Begitu Aura melihat aku memesan beef udon untuk makan siang, Aura pribadi minta. Eh benar aja, habis loh seporsi mangkok kecil.


Mana mulutnya dibuka lebar-lebar, seakan balas dendam sebab sudah beberapa hari terakhir gak makan apa-apa hihihi.Anak pinter! Mamanya gembira deh jikalau urusan perut hahaha.

Biasanya habis makan siang, Aura niscaya tidur sebab kekenyangan. Lumayan rekor nih, soalnya Aura selama perjalanan ke Gotemba udah tidur, eh terus tidur lagi di stroller. Begitu tidur di stroller, bapak ibunya berasa bebas banget mau window shopping hehehe.

Sekitar jam 5 sore, bis kami menuju Shinjuku Stasiun tiba dan kami pulang. Saya sendiri gak belanja apa-apa buat diri sendiri, cuma beli beberapa baju untuk Aura dan keponakan saya. Ntah kenapa, walaupun banyak barang branded dengan harga menggiurkan – tetap aja gak merasa harus belanja. Banyak lho tas-tas bagus harganya hanya tinggal sekitar 2-3 juta rupiah saja.

Untuk buat teman-teman yang suka belanja, Gotemba Premium Outlets jangan hingga kelewatan ya jikalau kalian pergi ke Jepang! :)

***

Saat perjalanan pulang dan bersahabat apartemen, aku mulai lapar dan galau mau makan malam apa. Abenk tiba-tiba kasih kejutan, mengajak aku makan malam di restoran Italia yang sering kami lewati tapi aku gak pernah ngeh! Letaknya ada di seberang Westin Hotel Tokyo, namanya Bacio di Guilietta.

Little surprise!
Aura yang sudah jauh lebih sehat, mulai ngoceh lagi ibarat biasanya.
Penampakan Bacio di Guilietta dari luar. Cantik!
Walau Aura masih agak pucat, tapi sudah lebih aktif dibanding hari-hari sebelumnya.
Pesanan kami untuk bertiga. Enak!

Surprisingly, pizza dan pastanya super enak! Tempatnya memang sepi, tapi jadi nyaman banget untuk kami yang bawa anak kecil. Yang paling penting, ada hidangan dalam bahasa Inggris dan pelayannya fasih berbahasa Inggris.

Buat saya, jikalau suami yang mendadak milih restoran untuk makan ketika liburan itu berarti banget. Apalagi jikalau makanannya enak! Momen ibarat ini akan terngiang-ngiang hingga kapan pun hihihi. Biarpun sudah mau menikah hampir 5 tahun, ada saja hal-hal kecil yang bikin bumbu-bumbu percintaan yang bikin senyum-senyum.. termasuk ketika suami dapat menentukan restoran yang yummy :D

 sebenarnya tidak ada dalam rencana liburan kami selama di Jepang JAPAN TRAVEL DIARY #3: GOTEMBA PREMIUM OUTLETS
*********************************************************

READ MORE
Japan Day #1 | Traveling With A Sick Toddler
Japan Day #2 |  Shibuya & Omotesando
Japan Day #3 | Gotemba
Japan Day #4 | Yoyogi Park & Shimokitazawa
Japan Day #5 | Daikanyama & Mori Art Museum
Japan Day #6 | Bye Tokyo, Hello Osaka!
Japan Day #7 | Osaka Aquarium Kaiyukan & Tempozan Park
Japan Day #8 | Kyoto & Arashiyama
Japan Day #9 | Last Day in Osaka

Japan Travel Diary #7: Osaka Aquarium Kaiyukan, Tempozan Park & Dotonbori

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Setelah pindah kota dan pindah penginapan, kami ternyata sanggup Airbnb yang kecil tapi sangat higienis dan rapih! Yang paling penting, kasurnya jauh lebih yummy dibanding Airbnb kami di Tokyo. Saya bilang Airbnb di Osaka ini sebagai gang senggol, soalnya begitu buka dua koper pribadi berasa sempit banget.

Sering banget saya dan Abenk ukiran gara-gara tempatnya yang super minim.

Ini semuanya gara-gara saya panik alasannya ialah Airbnb yang awalnya saya pesan, tiba-tiba harus dibatalkan oleh pemiliknya alasannya ialah mereka bermasalah dengan pemerintah di Osaka. Ya pokoknya begitu lah. Akhirnya saya cari lagi Airbnb yang sesuai dengan budget, tapi gak baca tips mengencangkan kulit wajah terlalu detail alasannya ialah udah mepet banget dengan hari keberangkatan ke Jepang.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Pas hingga di Airbnb, ya cukup kaget dengan ukurannya yang mini banget. Cukup sih jika sendirian atau berduaan aja. Tapi memang semua itu gak ada yang tepat banget (kecuali penginapan mahal hahaha). Walaupun ukuran apartemen yang kecil, kami bertiga nyenyak banget alasannya ialah kasurnya ibarat di hotel bintang lima.

Tapi, ada TAPI-nya lagi nih. Pas buka jendela, ada kuburan. JRENG JRENG. Abenk sih kaget, saya kaget juga sih. Cuma alasannya ialah ini kuburan Jepang yang gak sehoror kuburan di Indonesia, jadi saya nyantai aja tuh. Yahhh memang semuanya plus minus hahaha.

Selain itu, lokasinya bersahabat sekali dengan Daikokucho Station dan Imamiya Station. Ada convenient store dan rumah makan yang enak-enak. Airbnb yang saya pesan sanggup dicek di sini.

***

Di hari ketujuh, kami berencana untuk jalan-jalan di sekitar Osaka Aquarium Kaiyukan. Ada LEGOLAND Discovery Center Osaka, Tempozan Ferris Wheel dan Tempozan Park.

Sebelum hingga ke daerah tujuan, kami bertiga berhenti dulu di rumah makan kecil yang menjual Roast Beef Don Revolution – yang jika lihat dari foto yang ditempel di luar restoran, tampilannya menarik banget! Lebih menarik lagi, alasannya ialah yang jual itu ngerjain semuanya sendiri. Dari melayani tamu, masak, beres-beres dan juga kasir.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Mana bagus pula, gak ada tampang lusuh atau capek gitu lho orangnya. Saya terkagum-kagum, soalnya ini rumah makan lho bukan warung (ya mungkin warung sih buat orang Jepang). Karena sang pemilik ngerjain semua sendirian, jadi jika pesan masakan lamaaa banget. Kami menunggu kurang lebih 30 menit, gres deh pesanan kami datang.

Tapi yummy banget deh makanannya, saya senang banget apalagi sempat ngobrol dengan si pemilik rumah makan tersebut. Ia bilang jika dari dulu ngerjain semuanya sendirian bahkan dikala final pekan. Wah gak kebayang jika rumah makannya lagi ramai banget, terus beliau sendirian. Hebat ya!

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Setelah perut kenyang, kami mau mampir ke Lego Land yang letaknya ada di Tempozan Marketplace. Kami mampir dulu ke toko LEGO sambil lihat-lihat, eh taunya harganya gak beda jauh sama di Jakarta. Waktu ke Gotemba Premium Outlets, LEGO yang dijual harganya sanggup separuh harga di Jakarta.

Tapi alasannya ialah saya dan Abenk bawaannya udah ribet (nah ini gak enaknya pergi dikala isu terkini dingin, belom apa-apa koper sudah penuh), jadi kami gak beli LEGO di Gotemba.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Yaudah sambil lihat-lihat, Abenk keluar masuk toko.

“Kayaknya kita pribadi ke aquarium aja deh, Legoland-nya kayak gak terperinci gitu.”

Terus saya gres inget..

“Iya sih, kemarin saya juga baca tips mengencangkan kulit wajah-baca tips mengencangkan kulit wajah review, katanya gak worth it dan kecil banget. Jauh lebih bagus di Malaysia.”

Yawis, alhasil kami gak jadi ke LEGOLAND Discovery Center Osaka. Gak nyesel. Soalnya tiket masuknya juga relatif mahal buat daerah yang sekecil itu.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI
 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Sekarang giliran kami menghibur Aura dengan mengajaknya ke Osaka Aquarium Kaiyukan. Kalau lihat di foto-foto, kayaknya bagus banget akuariumnya. Bagus sih, TAPI jika sudah pernah ke S.E.A Aquarium yang di Resort World Sentosa.. MENURUT SAYAAAA.. Jauh lebih bagus yang di Sentosa!

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Walaupun koleksi binatangnya beda yah dengan SEA Aquarium, tapi dari segi kenyamanan pengunjung dan keren-kerenan tempat.. Ya jauh lebih keren SEA Aquarium. Saya jadi ngerasa agak buang-buang waktu kesana, apalagi pas jam ngantuknya Aura. Kaprikornus beliau mulai rewel-rewel gak betah gitu lho.

Saya dan Abenk juga ngantuk berat. Mungkin habis kekenyangan makan nasi, belom ngopi, terus agak bosan selama di Osaka Aquarium Kaiyukan.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Sekitar jam 4 sore, kami keluar dan cari coffee shop terdekat sambil nunggu Aura bangkit tidur. Lumayan seger tuh rasanya pas habis ngopi dan ngemil pancake. Lalu kami lanjut lagi ke Tempozan Ferris Wheel, soalnya waktu liburan ke Singapore kami gak naik ferris wheel.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI
 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Lumayan seru dan saya tidak mengecewakan tegang – alasannya ialah intinya saya takut dengan ketinggian (walaupun berusaha ngelawan terus). Cuaca sore itu memang pas banget untuk naik ferris wheel sambil menikmati pemandangan kota Osaka.

Hari itu agak tidak mengecewakan meaningless sih buat saya hahaha. Memang jika liburan kan kadang ada momen yang senang banget, ada yang biasa, ada juga yang ‘ya elah kayaknya sanggup lebih deh dari ini’. Tapi lagi-lagi, senang banget alasannya ialah kami bertiga sehat – back pain saya hilang dalam 1 hari, Aura ceria, Abenk juga sehat-sehat aja.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Sudah seminggu kami berlibur, rasa capek gres berasa banget di hari-hari terakhir. Mata udah mulai sembab, rasanya kangen kasur di rumah, pengen makan nasi padang, dll dll.

Saya dan Abenk bukan tipe orang yang sanggup liburan lebih dari 10-14 hari, alasannya ialah kami sudah terbiasa kerja. Kaprikornus jika udah kelamaan, biasanya kami gak betah dan pengen cepat-cepat pulang. Workaholic? Hahaha gak tau deh.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Malam itu kami habiskan waktu untuk menelusuri Dotonbori (lagi), kayaknya gak puas-puas deh kesini. Soalnya banyak toko kecil yang menjual barang-barang lucu dan cemilan gemes-gemes. Saya juga sempat berhenti untuk mengabadikan momen dengan gambar Glico yang populer itu.

Osaka tidak mengecewakan seru sih, cuma harusnya saya dan Abenk ambil rute yang ke Osaka dulu gres ke Tokyo. Tokyo jauh lebih seru-seru tempatnya! Tapi jika dari Osaka, memang lebih gampang untuk bepergian ke beberapa kota yang canti-cantik ibarat Kyoto dan Nara.

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI

Untuk dongeng di hari ketujuh di Osaka memang agak bosenin (ngaku hahaha). Tapi, penutupan liburan saya justru seru banget. Bosan-bosan gak jelas yang saya sebutkan di atas, alhasil terbayarkan juga di hari ke ke #8 dan #9. Tungguin dongeng selanjutnya! :D

 Setelah pindah kota dan pindah penginapan JAPAN TRAVEL DIARY #7: OSAKA AQUARIUM KAIYUKAN, TEMPOZAN PARK & DOTONBORI
*********************************************************

READ MORE
Japan Day #1 | Traveling With A Sick Toddler
Japan Day #2 |  Shibuya & Omotesando
Japan Day #3 | Gotemba
Japan Day #4 | Yoyogi Park & Shimokitazawa
Japan Day #5 | Daikanyama & Mori Art Museum
Japan Day #6 | Bye Tokyo, Hello Osaka!
Japan Day #7 | Osaka Aquarium Kaiyukan & Tempozan Park
Japan Day #8 | Kyoto & Arashiyama
Japan Day #9 | Last Day in Osaka