Family Life

Beauty

Beauty Budget

Cerita Sore

Lifestyle

Couple Trip

Personal

Fashion

Exploring Flores In Rainy Season + What To Pack



Ritual setiap ahad kedua di bulan Januari yaitu traveling. Ntah ritual ini sebetulnya tiba dari mana, cuman sudah hampir 5 tahun terakhir selalu melaksanakan ritual menyerupai ini. Nah kali ini saya memutuskan untuk traveling berdua dengan suami alasannya yaitu selama 2,5 tahun terakhir semenjak jadi orang tua, kami berdua belum pernah traveling tanpa anak. Ini benar-benar pertama kalinya saya dan suami akan meninggalkan Aura Suri beberapa hari.

Destinasi liburan yang saya pilih juga harus seru dan menantang, memang saya nggak mau liburan yang leha-leha kayak di villa atau resort gitu. Pokoknya saya ‘maksa’ mau jadi bolang (bocah petualang) mumpung sanggup pergi berdua dengan suami. Kami berdua juga jarang-jarang traveling ke Indonesia bab Timur, sehabis tanya-tanya rekomendasi dari beberapa sobat yang terpercaya, saya pribadi nekat booking untuk ikut open trip ke Flores selama 4D 3N lewat LYL Adventure.

Kenapa pilih open trip bukan private trip? Karena saya bener-bener ingin berpetualang. Sekalian kan niscaya nambah sobat gres kalau ikut open trip dan niscaya seru!

Untuk Open Trip selama 4D 3N, saya bayar IDR 2.650.000,- per orang (termasuk makan, penginapan dan sewa kapal). Tiket pesawatnya kurang lebih IDR 3.000.000,- per orang untuk pulang pergi, kemarin saya dari Jakarta ke Labuan Bajo naik Batik Air (direct) dan dari Labuan Bajo naik Nam Air (transit di Denpasar) kemudian ke Jakarta naik Sriwijaya Air.

Kata teman-teman lainnya sih kalau budget segitu dan lagi promo/travel fair, sanggup mampu pesawatnya Garuda Indonesia (direct).

Kamar kami di kapal.
Salah satu sajian makan siang yang berdasarkan saya glamor banget alasannya yaitu rasanya rasa masakan rumahan!

Buat jajan-jajan paling siapin sekitar IDR 1.000.000,- udah cukup banget, soalnya di kapal aja kita udah sanggup breakfast-lunch-snack-dinner. Tingkat kemewahan kapal juga tergantung budget yang kita punya, kalau contohnya punya budget sekitar 10-15jt/orang kapalnya juga niscaya lebih mewah.

Yang penasaran lebih detail wacana open trip yang saya ikuti, sanggup cek di sini.

Memang alasannya yaitu jatah liburan saya dan suami setiap Januari, jadi selama di Flores langitnya hampir selalu mendung dan hujan. Selama ini saya lihat banyak orang yang tiba ke Flores pas isu terkini kemarau dan bukitnya berwarna kuning keemasan. Ternyata pas isu terkini hujan, malah makin seru dan medannya menantang banget dan pemandangannya juga berbeda dari yang biasanya saya lihat di media sosial.

Bahkan tempat-tempat yang saya kunjungi terasa dan terlihat menyerupai di Skotlandia, bukit-bukitnya terlihat hijau sekali dan udaranya juga gloomy.



DAY 1

Tiba di Labuan Bajo dikala sore hari, pribadi dijemput dan diantar ke Green Hill Boutique Hotel. Dari airport ke hotel cuman sekitar 5-10 menit naik mobil, jaraknya bersahabat banget! Hotelnya sih biasa aja, yang penting kasur dan bantalnya bersih. Sayangnya di Flores itu memang kanal air higienis masih agak susah, jadi kalau menginap di hotel kecil ya airnya seadanya aja.

Sambil menunggu makan malam saya dan suami duduk-duduk di cafe yang ada di Green Hill Boutique Hotel. Pas makan malam, kami diajak makan seafood di Pusat Kuliner Kampung Ujung.



DAY 2

Setelah sarapan, kendaraan beroda empat tiba untuk membawa koper para penerima tur dan kami berjalan kaki menuju Pelabuhan Labuan Bajo. Dari Green Hill Boutique Hotel ke pelabuhan cuman 10 menit, deket banget! Destinasi pertama ke Pulau Kelor, jangan lupa pakai sepatu trekking dan berhati-hati alasannya yaitu jalurnya curam banget.

Makan siang di kapal, kemudian pribadi ke Pulau Rinca dimana kita sanggup melihat habitat aslinya komodo. Kalau nggak hujan kita sanggup menikmati sunset disini, tapi alasannya yaitu hujan yaudah foto-foto aja deh hahaha. Setelah dari Pulau Rinca kita menuju Pulau Kambing untuk berlabuh, tapi alasannya yaitu hujan cukup parah kami cuman berhenti dan menikmati Pulau Kambing dari kejauhan aja.



DAY 3

Sekitar pukul 4.30 pagi, kapal mulai berlayar lagi menuju Pulau Padar karena kami akan menikmati sunrise. Jalur trekking-nya kini sudah jadi tangga, jadi cukup memudahkan orang-orang kayak saya yang takut banget ketinggian. Destinasi berikutnya kita ke Pink Beach, berenang dan snorkeling disana. Saat perjalanan ke Pulau Gusung, kami berhenti di Manta Point dimana kami melihat manta rays berenang dan sesekali muncul ke permukaan laut.

Sorenya kami menuju Pulau Gusung, lanjut mengejar sunset di Gili Lawa. Karena hujannya tak kunjung henti hingga malam, kami menghabiskan sore hingga malam dengan ngobrol-ngobrol di kapal sambil makan malam.



DAY 4

Kami dibangunkan pukul 5 pagi dan di luar masih gelapppp banget. Masih gerimis juga, tapi kami tetap semangat untuk trekking ke atas Gili Lawa untuk melihat pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Jalur trekkingnya parah sih tinggi banget, tapi begitu hingga di atas semua usaha karenanya terbayar.

Turun dari Gili Lawa, pribadi sarapan berat di kapal dan menuju Pulau Kanawa untuk snorkeling. Setelah itu pribadi diantar ke Labuan Bajo lagi. Menjelajah keindahan alam dan pulau-pulau di Flores ternyata seru dan menyenangkan. Untuk catatan perjalanan lebih detailnya akan menyusul di artikel tips mengencangkan kulit wajah-artikel tips mengencangkan kulit wajah lainnya ya!

YANG HARUS DIBAWA KE FLORES SAAT MUSIM HUJAN:

  • Saran dari teman-teman yang sudah pernah ke Flores, katanya hanya boleh bawa satu koper kabin dan satu carrier jika ingin bermalam di kapal. Kaprikornus saya dan suami masing-masing bawa satu koper, suami menggunakan sling bag dan saya bawa backpack.
  • Jaket atau wind-breaker. Favorit saya dari Uniqlo. 
  • Sepatu atau sendal trekking. Kemarin saya pakai sepatu running ternyata licin banget apalagi dikala isu terkini hujan.
  • Waterproof bag, kalau nggak punya sanggup bawa plastik untuk menjaga kamera dan smartphone semoga tetap kondusif kalau hujan besar.
  • Bandana atau scarf, buat aksesoris mulai dari digunakan jadi bandana hingga menutupi badan dikala sinar matahari lagi panas banget.
  • Celana legging atau olahraga untuk trekking
  • Selama di Flores, pakaian dalam yang saya pakai juga berupa sport bra dan bawahan tankini semoga kalau dijemur cepat kering.
  • Sunglasses, summer hat dan sendal jepit.
  • Kacamata renang, kalau memang lebih nyaman pakai milik pribadi.
  • Sunblock nggak boleh dilewatkan ya walaupun isu terkini hujan. Bawa Aloe Vera Soothing Gel (bisa beli merek Banana Boat atau Nature Republic) kalau kena kulit terbakar matahari dan perih.
  • Bawa buku baca tips kulit wajah awet mudaan atau jurnal untuk menghabiskan waktu selama di kapal, alasannya yaitu perjalanan cukup jauh.
  • Intinya sebisa mungkin bawa baju atau celana yang bahannya cepat kering pas isu terkini hujan, tapi kalau mau bawa summer dress juga nggak apa-apa kok.
  • Walaupun di kapal selalu tersedia makanan, nggak ada salahnya membawa abon, bawang goreng, mie instan sendiri kok.

Open trip yang terasa menyerupai private trip.


Yang mau baca tips kulit wajah awet muda trip ke Flores versi isu terkini kemarau, sanggup baca tips kulit wajah awet muda juga di blognya Agnes dan Febrian ya! Makasih yang sudah baca tips kulit wajah awet muda, selamat jalan-jalan ;)

 Ritual setiap ahad kedua di bulan Januari yaitu  EXPLORING FLORES IN RAINY SEASON + WHAT TO PACK

Sebuah Catatan Perjalanan: Flores #1



Rintik hujan di bulan Januari selalu menemani perjalanan saya setiap awal tahun. Destinasi kali ini memang sedikit berbeda dari biasanya, alasannya yaitu saya dan suami pertama kalinya sanggup ‘kabur’ berdua untuk menghabiskan waktu bersama tanpa anak. Langit di Labuan Bajo hanya sesekali cerah. Awan-awan tebal silih berganti menutupi luasnya langit, udara hambar pun menyelimuti suasana.

Saat mengetahui bahwa saya akan bermalam di atas kapal selama dua malam, saya tidak mau banyak berekspektasi. Perasaan antusias lebih mendominasi diri saya, padahal saya takut dengan laut.

Ketika kapal mulai berlayar, alunannya terasa ibarat ditimang-timang. Angin yang berhembus di pipi seakan memberi perasaan tenang dan damai, dan sedikit rasa kemenangan alasannya yaitu hasilnya saya sanggup kabur sejenak dari ibukota.

Leher dan bahu yang biasanya terasa tegang dikala beraktifitas terlalu intens, tidak terasa lagi selama saya berpetualang di Flores.




Pemberhentian pertama dalam petualangan saya yaitu Pulau Kelor. Pulau-pulau di Flores terlihat sangat indah dan terlihat serupa, tapi hanya beberapa pulau yang sanggup dikunjungi oleh orang lokal maupun turis. Bang Erwind, guide lokal yang menemani saya dan akseptor lain selama di Flores, sempat menyampaikan kalau jalur trekking di Pulau Kelor curam dan paling ekstrim. Saya nggak terbiasa trekking, jadi membayangkannya saja sudah nggak berani.

Tapi alasannya yaitu sudah jauh-jauh ke Flores, apa pun medannya harus dicoba. Kan memang niatnya mau jadi bocah petualang hehehe.

Salahnya saya hanya membawa sepatu running yang agak flat, jadi licin sekali untuk jalur securam Pulau Kelor. Baru setengah perjalanan, lutut saya rasanya lemas alasannya yaitu saya sangat takut ketinggian (tapi selalu berusaha melawan ketakutan tersebut).



Kurang lebih butuh waktu 10-15 menit untuk hingga di puncak Pulau Kelor, rasa takut dan cemas saya pribadi hilang begitu melihat pemandangan di sekeliling saya.

Tapi alasannya yaitu daerah untuk berfoto dan istirahat sangat kecil dan masih banyak orang yang datang, nggak usang saya memutuskan untuk turun ke bawah. Niatnya, biar lebih yummy turun dari pada harus berdesak-desakan dengan orang lain.



Karena saya takut dan sepatu saya licin, saya sempat terpeleset ketika hendak turun. Suami saya, Bang Erwind dan akseptor tur lainnya masih ada di atas. Untungnya nggak lama, yang lain muncul menyusul dan Bang Erwind menuntun saya hingga hingga bawah. Wah turunnya jauh lebih susah buat naik! Apalagi saya nggak biasa dengan aktivitas outdoor ibarat ini.

Saya hampir menangis sih sangking takut jatuh, tubuh saya juga keringetan alasannya yaitu panas dan deg-degan.



Sampai di kapal, meja makan sudah dipenuhi dengan banyak sekali macam santapan yang berdasarkan saya.. mewah! Pokoknya apa pun yang bentuknya ibarat kuliner rumahan, berdasarkan saya M.E.W.A.H! Sebelum makan siang saya gres sadar kalau di sekitar jari kelingking saya robek dan kaki kanan saya lecet-lecet akhir terpeleset di Pulau Kelor.

Untungnya ada P3K di kapal, jadi lukanya sanggup saya tutup plester untuk sementara. Saat makan siang, kapal pribadi berlayar lagi ke Pulau Menjerite. Saya ditawarkan untuk turun dan foto-foto di dermaga, tapi saya dan suami lebih menentukan untuk istirahat di kapal sambil menikmati secangkir kopi Flores. Empat akseptor lainnya yaitu mahasiswa dan mahasiswi dari Jogja. Mereka berempat turun ke Pulau Menjerite, sedangkan saya hanya menikmati pemandangan dari kejauhan saja.



Menjelang pukul 2 siang, hujan semakin deras dan udara semakin dingin. Destinasi berikutnya yaitu trekking dan melihat habitat komodo di Pulau Rinca. Karena hujan cukup deras, kami sempat menunggu hujan reda di atas kapal. Cuaca yang tak sanggup diprediksi memang menjadi tantangan sendiri, tapi sekitar jam 3 sore kami sanggup turun ke Pulau Rinca.



Grup kami ditemani oleh dua orang ranger untuk trekking di Pulau Rinca. Begitu masuk, kami sanggup melihat tulang-tulang peninggalan keganasan komodo yang rata-rata tinggal kepala dan tanduknya aja.

Saya gres tau kalau komodo itu sanggup makan hewan lain hingga tulang-tulangnya kecuali bab kepala alasannya yaitu ukurannya terlalu besar untuk masuk ke lisan komodo.



Saya sudah sering melihat komodo di kebun binatang, tapi gres kali ini melihat komodo di lepas begitu saja. Begitu grup saya datang, tiba-tiba tiga ekor komodo mendekati rombongan kami.

Salah satu dari komodonya ada yang dicat warna merah di bab punggung, kata salah satu ranger kami, komodo yang diberi tanda itu yang kasar atau sudah pernah menyerang insan (!!!!)



Gilak, saya pribadi melotot dan ngumpet di balik kerumunan rombongan. Mau mengambil gambar aja jadi nggak konsen, alasannya yaitu takut tiba-tiba ada komodo di belakang saya. Soalnya ranger kami juga dongeng kalau pada tahun 2017, ada insiden dimana komodo menyerang orang yang lagi lengah atau ada juga tukang bangunan yang sudah diincar komodo. Cerita detailnya saya juga kurang tau, pada dasarnya mengerikan.. Jangan cari gara-gara deh kalau sama komodo.

Di dikala yang bersamaan, hujan juga semakin deras tapi kami tetap trekking menuju bukit biar sanggup menikmati pemandangan dari atas. Kalau nggak hujan, kami sanggup menikmati matahari terbenam. Walaupun hujan nggak berhenti, menikmati pemandangan di Pulau Rinca dikala isu terkini hujan menjadi sesuatu yang berbeda bagi saya.






Saya biasanya selalu melihat foto-foto Flores yang kuning keemasan, tapi kalau hujan dan gloomy ibarat kemarin, rasanya ibarat di Skotlandia!

Jika punya banyak waktu, sanggup ambil jalur long trekking (tapi harus dari pagi) untuk menelusuri Pulau Rinca yang berbukit, sangat indah dan fotogenik. Setiap pengunjung juga harus ditemani oleh ranger, alasannya yaitu habitat terbesar komodo ada di pulau ini.

Saat kembali ke atas kapal, saya kaget alasannya yaitu di meja sudah disuguhkan pisang goreng keju lengkap dengan butiran coklat! Saya tidak mengecewakan nggak nyangka alasannya yaitu akseptor tur disuguhi kuliner terus, tau aja nih perut nggak pernah kenyang hahaha.


Enak banget, saya hingga makan tiga potong!

Sebelum malam dan langit menjadi gelap, seharusnya kami sanggup mampir ke Pulau Kambing untuk snorkeling dan menikmati sunset. Cuaca lagi-lagi yang menentukan, hasilnya kami hanya menikmati Pulau Kambing dari kejauhan saja.

Pulau Kambing bergotong-royong hanya pulau kecil, tapi kenapa namanya ada ‘kambing’nya? Kata Bang Erwind, dulu ada kambing-kambing ternak yang sengaja diternak di pulau kecil ini biar kondusif dari komodo. Lucu juga ya ceritanya hehehe..

Pulau Kambing dari kejauhan.

Malam pertama di atas kapal, rasanya agak absurd tapi somehow juga menyenangkan banget. Saya nggak sanggup tidur nyenyak sih, alasannya yaitu saya memang agak susah pembiasaan kalau bermalam di daerah yang asing. Hari pertama menjelajah di Flores sangat menyenangkan, masih banyak petualangan lain yang menanti di keesokan hari.

Related Post: Exploring Flores in Rainy Seasons + What to Pack

 Rintik hujan di bulan Januari selalu menemani perjalanan saya setiap awal tahun SEBUAH CATATAN PERJALANAN: FLORES #1

Sebuah Catatan Perjalanan: Flores #2



Saya terbangun pukul 5 pagi ketika mendengar bunyi mesin kapal yang gres dinyalakan. Tak lama, terasa kapal mulai berlayar lagi menuju destinasi selanjutnya. Saya mengintip dari balik tirai kamar, tapi yang terlihat di luar hanya handuk-handuk dan baju yang sedang dijemur. Di luar sana masih gelap gulita, nggak terlihat apa pun.

Mencoba untuk tidur lagi, tapi nggak bisa. Akhirnya saya menentukan untuk keluar dari kamar dan duduk di luar sambil menikmati perubahan warna langit dari gelap menjadi kebiruan.



Kapal saya bermalam di dekat Pulau Kambing alasannya ialah arus di sekitar pulau ini sangat damai dan nyaman untuk para penumpang kapal. Waktu yang ditempuh dari Pulau Kambing ke Pulau Padar sekitar dua jam. Sepanjang perjalanan saya berdoa semoga cuaca lebih akrab dibanding kemarin.

Sambil menikmati pagi yang kebiruan, saya mengisi dan menulis jurnal perjalanan selama di Flores. Saya mengucapkan selamat pagi pada Pak Rizal, nahkoda kapal yang menemani perjalanan saya selama tiga hari di Flores. Pak Rizal membalas dengan senyuman dan ia mengangguk ramah, tapi saya tau kalau ia sedang konsentrasi dengan kemudinya.



Tak beberapa usang sehabis saya menulis jurnal perjalanan, bukit-bukit hijau mulai terlihat lagi di sekeliling saya. Salah satu awak kapal duduk di ujung kapal sambil menghisap sebatang rokok, terlihat menikmati pemandangan yang ada di depannya. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa para awak kapal juga selalu menikmati keindahan alam Flores walaupun mereka melihatnya setiap hari?

Sambil menikmati udara pagi yang segar, saya memegang rambut saya yang setengah berair dan menyeruput teh panas.

The voice of the sea speaks to the soul.
Kate Chopin

Tak ada yang beban dalam hati dan pikiran saya ketika menikmati begitu indahnya pemandangan yang ada di depan mata. Semuanya sangat indah dan mempesona, bahkan saya bilang berkali-kali pada diri sendiri, bahwa keindahan alam yang saya lihat jauh lebih bagus ketika dinikmati dengan mata kepala dibanding ketika terekam lensa kamera.



Pukul 6 pagi, saya dan rombongan sudah hingga di Pulau Padar. Berbeda dengan pulau-pulau yang saya lihat sebelumnya, Pulau Padar mempunyai dermaga dan tangga untuk jalur trekking. Kata Bang Erwind, dermaga ini juga umurnya belum resmi satu bulan. Tapi memang masih dalam tahap pembangunan, belum jadi 100%.

Jalur untuk trekking juga sudah diganti dengan tangga yang terbuat dari batu, memudahkan saya untuk mencapai puncak lebih cepat dan lebih mantap dibanding ketika trekking di Pulau Kelor.



Sepanjang trekking, pemandangan Pulau Padar terlihat luar biasa dari banyak sekali sisi. Sayangnya jalur trekking pun belum jadi 100%, ketika hendak ke puncak bukit, jalurnya masih jalur tradisional alias tanah!

Saya takut banget, suami dan Bang Erwind menjaga dan menyemangati saya di belakang. Kalau saya menengok ke arah puncak, kelihatannya curam dan terjal sekali.

Jujur aja, saya hampir menyerah. Kepikiran mau turun dan kembali ke kapal.




Sampai di atas, lagi-lagi usaha saya terbayar oleh keindahan alam. Sulit sekali mengungkapkannya dalam bentuk aksara, kalau sudah pernah ke Pulau Padar niscaya mengerti dengan perasaan saya.

Satu hal yang saya ingat, ketika sudah di puncak, kita harus bergantian dengan pengunjung lain alasannya ialah banyak yang berminat untuk foto. Karena jalurnya curam dan tempatnya kurang luas untuk mengantri atau duduk-duduk, jadi benar-benar harus gerak cepat disini.




Setelah puas bengong-bengong dan menikmati keindahan Pulau Padar, saya dan rombongan turun menuju kapal kami. Setelah menyantap sarapan yang disediakan dengan lahap, kapal pribadi menuju ke Pink Beach. Nah, perjalanan dari Pulau Padar ke Pink Beach tidak mengecewakan menantang alasannya ialah harus melawan arus kencang dari Samudera Hindia.

Saya doa-doa dan membisu aja sih selama perjalanan, soalnya beneran takut! Pulau-pulau yang saya lihat dalam perjalanan juga bervariasi, mengingatkan saya dengan film-film Jurassic Park gitu.



Selama di Pink Beach kami santai-santai sambil berjemur, snorkeling, ngobrol-ngobrol sambil mengagumi pasir berwarna pink yang super gemesin! Saya senang banget deh alhasil kesampaian melihat pink beach, selama ini cuma lihat dan dengar dongeng dari teman-teman aja :))

Sayangnya di sekitar pantai banyak sampah-sampah yang terbawa arus, dan alasannya ialah nggak ada petugas yang berjaga di pulau ini, tidak mengecewakan keliatan dan agak kotor. Kaprikornus next time teman-teman mau kesini, kalau punya banyak waktu dapat ngumpulin sampah sambil liburan ya, toh kalau maritim dan pantai bersih, kita dapat menyelamatkan makhluk hidup lainnya ibarat ikan dan burung (mereka kadang suka nggak sengaja makan sampah plastik).




Di Pink Beach saya nggak sengaja menemukan air tawar yang jatuh dari bukit. Saya iseng coba untuk berkumur, wah senang banget begitu nyobain airnya segar dan dingin. Mungkin alasannya ialah lagi demam isu hujan, jadi ada mata air dari bukit.

Karena air tersebut menetes terus, alhasil saya dan teman-teman lainnya bilas tubuh disini sehabis main di laut. Ini juga pengalaman yang menyenangkan hahaha! Kapan lagi dapat mandi di alam terbuka.



Ketika sudah selesai dan puas mengeksplor di Pink Beach, lagi-lagi makan siang sudah menanti di kapal. Memang nih si kakak koki pahlawan banget masaknya! Kami disuguhkan ikan, gado-gado, tempe oseng dan spagetti bolognese.

Kaprikornus ada perpaduan antara kuliner Indonesia dan juga kuliner barat ya hehehe. Pencuci mulutnya kadang semangka, kadang nanas yang manis dan fresh!



Serunya selama bermalam di kapal, kuliner yang disajikan belum ada yang fail! Setiap sore kami juga disuguhkan cemilan ibarat pisang goreng atau pisang kukus, nyam nyam!

Bang Erwind juga menyebarkan kami sambal lombok yang segar dan pedes bikin nagih.

Sambal segar buatan Bang Erwind.
Bang Erwind, guide kami yang sangat murah senyum, suka bercanda dan andal bikin sambal.

Menjelang sore, kapal berlayar menuju Manta Point dimana kita dapat berenang dan melihat ikan manta. Mendekati Manta Point, kapal kami berjalan perlahan-lahan sambil mencari manta rays dengan mata telanjang.

Eh benar saja, Bang Erwind, tiba-tiba heboh dan memanggil para penerima tur untuk menyaksikan fenomena ini.

Tadinya saya lagi ngantuk-ngantuknya, mendadak jadi segar alasannya ialah ingin melihat manta rays dari atas kapal. Salah satu manta rays mengikuti kapal kami jadi kami dapat menikmatinya dari atas kapal, dekat banget dan terlihat kawanan manta rays sedang muncul ke permukaan.



Mereka berenang dengan sangat anggun, sesekali memperlihatkan siripkan ke permukaan. Karena air maritim yang sangat jernih, dari atas kapal terlihat terang sekali ukuran dan juga bentuk ikan pari manta (manta rays) yang selama ini hanya saya lihat di media sosial. Sayangnya saya nggak sempat mengabadikan dengan kamera saya, tapi nanti teman-teman bisa nonton di vlog-nya Abenk.

Bang Erwind juga dongeng kalau manta rays dilindungi oleh Undang Undang dari Menteri Kelautan dan Perikanan, sehingga kita nggak boleh sembarang memegang atau bahkan menyakiti manta rays. Saya sempat tanya ke Bang Erwind, kenapa kok ia heboh banget padahal setiap ahad kan niscaya ke Manta Point untuk mengantar turis.

“Wah ini kita lagi beruntung sekali, mbak Andra. Jarang-jarang kita dapat lihat pari manta tanpa harus mencari.”

WAH jadi kami benar-benar beruntung! Sore itu rasanya bersyukur banget alasannya ialah dapat menyaksikan wildlife yang begitu anggun, makin besar hati dengan kekayaan alam Indonesia.



Tak jauh dari Manta Point, kami hingga di dekat Pulau Pasir Taka Makassar.

Dinamakan Pulau Pasir karena pulanya hanya berupa gundukan pasir saja. Kalau dilihat dari aerial view, betul-betul pasir saja yang berbentuk pulau. Karena Pulau Pasir cukup ramai dan sore itu mulai hujan lagi, saya menentukan satu pulau kecil tak berpenghuni untuk kami datangi.



Kami diantar dengan speedboat oleh salah satu awak kapal, Yusuf, menuju pulau kecil tak berpenghuni. Setelah saya googling ternyata pulau ini termasuk dalam Taka Makassar. Kita dapat mengelilingi pulau kecil ini hanya dalam 5-10 menit, tapi bab belakang pulau tertutup dengan tanaman bakau.

Disana saya mengumpulkan karang merah yang menjadi asal muasal pasir berwarna pink hanya untuk kebutuhan dokumentasi.



Tak usang hujan semakin deras, kami bertujuh berair kuyup diguyur hujan.

Pak Rizal harus mengendalikan kapal dengan jarak pandang seadanya, rupanya hujan semakin ganas dan disertai angin kencang. Air muka awak kapal terlihat biasa saja, memberi tanda bahwa saya tak perlu khawatir alasannya ialah mereka sudah biasa menghadapi cuaca ibarat ini.



Kurang lebih sehabis dua jam perjalanan dengan cuaca yang ekstrim, kapal kami berlabuh di Gili Lawa bersama kapal-kapal lainnya. Kapal kami pribadi bergandengan dengan kapal lainnya, kata para awak hal ini justru lebih kondusif alasannya ialah kapal akan tetap terjaga stabil.

Hujan tak kunjung reda, tak ada kepastian kapan kami dapat turun ke Gili Lawa untuk menikmati pemandangan. Jika tak hujan, sunset di Gili Lawa menjadi salah satu daya tarik tersendiri di Flores. Pukul 5 sore, hujan tak kunjung reda sehingga kami memutuskan untuk beristirahat saja di kapal.



Berkunjung ke Flores ketika demam isu hujan bukan suatu kesalahan, tapi justru kebahagiaan bagi saya begitu mendengar suami saya berkali-kali berkata bahwa sangat menyenangkan ketika ia dapat hujan-hujanan di tengah laut.

Walaupun banyak orang bilang Flores lebih dapat dinikmati ketika demam isu kemarau, langit mendung dan demam isu hujan menggoreskan makna yang berbeda di hati saya.

Blessed.

Related Posts:
Exploring Flores in Rainy Season + What to Pack
Sebuah Catatan Perjalanan: Flores #1


 pagi ketika mendengar bunyi mesin kapal yang gres dinyalakan SEBUAH CATATAN PERJALANAN: FLORES #2