Family Life

Beauty

Beauty Budget

Cerita Sore

Lifestyle

Couple Trip

Personal

Fashion

» » » » Sebuah Catatan Perjalanan: Flores #1



Rintik hujan di bulan Januari selalu menemani perjalanan saya setiap awal tahun. Destinasi kali ini memang sedikit berbeda dari biasanya, alasannya yaitu saya dan suami pertama kalinya sanggup ‘kabur’ berdua untuk menghabiskan waktu bersama tanpa anak. Langit di Labuan Bajo hanya sesekali cerah. Awan-awan tebal silih berganti menutupi luasnya langit, udara hambar pun menyelimuti suasana.

Saat mengetahui bahwa saya akan bermalam di atas kapal selama dua malam, saya tidak mau banyak berekspektasi. Perasaan antusias lebih mendominasi diri saya, padahal saya takut dengan laut.

Ketika kapal mulai berlayar, alunannya terasa ibarat ditimang-timang. Angin yang berhembus di pipi seakan memberi perasaan tenang dan damai, dan sedikit rasa kemenangan alasannya yaitu hasilnya saya sanggup kabur sejenak dari ibukota.

Leher dan bahu yang biasanya terasa tegang dikala beraktifitas terlalu intens, tidak terasa lagi selama saya berpetualang di Flores.




Pemberhentian pertama dalam petualangan saya yaitu Pulau Kelor. Pulau-pulau di Flores terlihat sangat indah dan terlihat serupa, tapi hanya beberapa pulau yang sanggup dikunjungi oleh orang lokal maupun turis. Bang Erwind, guide lokal yang menemani saya dan akseptor lain selama di Flores, sempat menyampaikan kalau jalur trekking di Pulau Kelor curam dan paling ekstrim. Saya nggak terbiasa trekking, jadi membayangkannya saja sudah nggak berani.

Tapi alasannya yaitu sudah jauh-jauh ke Flores, apa pun medannya harus dicoba. Kan memang niatnya mau jadi bocah petualang hehehe.

Salahnya saya hanya membawa sepatu running yang agak flat, jadi licin sekali untuk jalur securam Pulau Kelor. Baru setengah perjalanan, lutut saya rasanya lemas alasannya yaitu saya sangat takut ketinggian (tapi selalu berusaha melawan ketakutan tersebut).



Kurang lebih butuh waktu 10-15 menit untuk hingga di puncak Pulau Kelor, rasa takut dan cemas saya pribadi hilang begitu melihat pemandangan di sekeliling saya.

Tapi alasannya yaitu daerah untuk berfoto dan istirahat sangat kecil dan masih banyak orang yang datang, nggak usang saya memutuskan untuk turun ke bawah. Niatnya, biar lebih yummy turun dari pada harus berdesak-desakan dengan orang lain.



Karena saya takut dan sepatu saya licin, saya sempat terpeleset ketika hendak turun. Suami saya, Bang Erwind dan akseptor tur lainnya masih ada di atas. Untungnya nggak lama, yang lain muncul menyusul dan Bang Erwind menuntun saya hingga hingga bawah. Wah turunnya jauh lebih susah buat naik! Apalagi saya nggak biasa dengan aktivitas outdoor ibarat ini.

Saya hampir menangis sih sangking takut jatuh, tubuh saya juga keringetan alasannya yaitu panas dan deg-degan.



Sampai di kapal, meja makan sudah dipenuhi dengan banyak sekali macam santapan yang berdasarkan saya.. mewah! Pokoknya apa pun yang bentuknya ibarat kuliner rumahan, berdasarkan saya M.E.W.A.H! Sebelum makan siang saya gres sadar kalau di sekitar jari kelingking saya robek dan kaki kanan saya lecet-lecet akhir terpeleset di Pulau Kelor.

Untungnya ada P3K di kapal, jadi lukanya sanggup saya tutup plester untuk sementara. Saat makan siang, kapal pribadi berlayar lagi ke Pulau Menjerite. Saya ditawarkan untuk turun dan foto-foto di dermaga, tapi saya dan suami lebih menentukan untuk istirahat di kapal sambil menikmati secangkir kopi Flores. Empat akseptor lainnya yaitu mahasiswa dan mahasiswi dari Jogja. Mereka berempat turun ke Pulau Menjerite, sedangkan saya hanya menikmati pemandangan dari kejauhan saja.



Menjelang pukul 2 siang, hujan semakin deras dan udara semakin dingin. Destinasi berikutnya yaitu trekking dan melihat habitat komodo di Pulau Rinca. Karena hujan cukup deras, kami sempat menunggu hujan reda di atas kapal. Cuaca yang tak sanggup diprediksi memang menjadi tantangan sendiri, tapi sekitar jam 3 sore kami sanggup turun ke Pulau Rinca.



Grup kami ditemani oleh dua orang ranger untuk trekking di Pulau Rinca. Begitu masuk, kami sanggup melihat tulang-tulang peninggalan keganasan komodo yang rata-rata tinggal kepala dan tanduknya aja.

Saya gres tau kalau komodo itu sanggup makan hewan lain hingga tulang-tulangnya kecuali bab kepala alasannya yaitu ukurannya terlalu besar untuk masuk ke lisan komodo.



Saya sudah sering melihat komodo di kebun binatang, tapi gres kali ini melihat komodo di lepas begitu saja. Begitu grup saya datang, tiba-tiba tiga ekor komodo mendekati rombongan kami.

Salah satu dari komodonya ada yang dicat warna merah di bab punggung, kata salah satu ranger kami, komodo yang diberi tanda itu yang kasar atau sudah pernah menyerang insan (!!!!)



Gilak, saya pribadi melotot dan ngumpet di balik kerumunan rombongan. Mau mengambil gambar aja jadi nggak konsen, alasannya yaitu takut tiba-tiba ada komodo di belakang saya. Soalnya ranger kami juga dongeng kalau pada tahun 2017, ada insiden dimana komodo menyerang orang yang lagi lengah atau ada juga tukang bangunan yang sudah diincar komodo. Cerita detailnya saya juga kurang tau, pada dasarnya mengerikan.. Jangan cari gara-gara deh kalau sama komodo.

Di dikala yang bersamaan, hujan juga semakin deras tapi kami tetap trekking menuju bukit biar sanggup menikmati pemandangan dari atas. Kalau nggak hujan, kami sanggup menikmati matahari terbenam. Walaupun hujan nggak berhenti, menikmati pemandangan di Pulau Rinca dikala isu terkini hujan menjadi sesuatu yang berbeda bagi saya.






Saya biasanya selalu melihat foto-foto Flores yang kuning keemasan, tapi kalau hujan dan gloomy ibarat kemarin, rasanya ibarat di Skotlandia!

Jika punya banyak waktu, sanggup ambil jalur long trekking (tapi harus dari pagi) untuk menelusuri Pulau Rinca yang berbukit, sangat indah dan fotogenik. Setiap pengunjung juga harus ditemani oleh ranger, alasannya yaitu habitat terbesar komodo ada di pulau ini.

Saat kembali ke atas kapal, saya kaget alasannya yaitu di meja sudah disuguhkan pisang goreng keju lengkap dengan butiran coklat! Saya tidak mengecewakan nggak nyangka alasannya yaitu akseptor tur disuguhi kuliner terus, tau aja nih perut nggak pernah kenyang hahaha.


Enak banget, saya hingga makan tiga potong!

Sebelum malam dan langit menjadi gelap, seharusnya kami sanggup mampir ke Pulau Kambing untuk snorkeling dan menikmati sunset. Cuaca lagi-lagi yang menentukan, hasilnya kami hanya menikmati Pulau Kambing dari kejauhan saja.

Pulau Kambing bergotong-royong hanya pulau kecil, tapi kenapa namanya ada ‘kambing’nya? Kata Bang Erwind, dulu ada kambing-kambing ternak yang sengaja diternak di pulau kecil ini biar kondusif dari komodo. Lucu juga ya ceritanya hehehe..

Pulau Kambing dari kejauhan.

Malam pertama di atas kapal, rasanya agak absurd tapi somehow juga menyenangkan banget. Saya nggak sanggup tidur nyenyak sih, alasannya yaitu saya memang agak susah pembiasaan kalau bermalam di daerah yang asing. Hari pertama menjelajah di Flores sangat menyenangkan, masih banyak petualangan lain yang menanti di keesokan hari.

Related Post: Exploring Flores in Rainy Seasons + What to Pack

 Rintik hujan di bulan Januari selalu menemani perjalanan saya setiap awal tahun SEBUAH CATATAN PERJALANAN: FLORES #1

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply