Minggu lalu, saya sempat diundang ke pembukaan toko Snuggle Up Kidsdi The Buya, Cipete Raya. Jarang-jarang nih saya ikut playdate, tapi alasannya ialah lokasinya yang bersahabat rumah dan sahabat-sahabat saya ikutan tiba jadi sayang banget jikalau saya gak ikutan. Tokonya super gemas! Ada area bermain yang dikelilingi oleh produk-produk anak menyerupai tas, baju dan mainan yang gemes-gemes.
Area toko yang luas menciptakan para ibu dan anak jadi nyaman alasannya ialah gak sumpek. Aura, Sada dan Domi bahagia banget dan berlari-larian kesana kemari.
Siang itu menyenangkan banget alasannya ialah dapat kumpul dengan ibu-ibu lainnya, yang rata-rata punya anak seumuran Aura dan Sada. Penting banget dapat ketemu ibu-ibu lainnya biar dapat bagi-bagi dongeng soal parenting dan motherhood. Siang itu ditutup dengan makan siang super gragas di restoran Pagi Sore bareng Anya, Kenny dan Sherin. Hihihi seru!
Saya punya memori masa kecil yang sangat membekas soal camilan manis Lebaran. Dulu waktu aku kecil, Eyang Putri rajin banget bikin camilan manis Idulfitri untuk keluarga. Mulai dari nastar, kastengel, putri salju dan lainnya. Saya ingat betul sewaktu aku bilang, “Eyang, nanti jikalau Eyang sudah meninggal tolong tinggalin resep camilan manis Lebaran-nya ke Andra ya.”
Waktu itu aku masih umur 5-6 tahun. Tentunya omongan aku jadi materi bercandaan seluruh keluarga. Eyang sudah pergi dua tahun yang lalu, namun memori camilan manis Idulfitri yang enak, gurih dan rasanya mengingatkan pada keluarga sangat membekas.
Akhir pekan ini aku diajak oleh Blue Band untuk mengikuti program yang seru banget di Lucy In The Sky di daerah SCBD. Kan sebentar lagi mau Idulfitri nih, jadi niscaya banyak ibu-ibu yang ingin menciptakan camilan manis Idulfitri tapi kadang terhambat sebab alat masak yang terbatas. Contohnya ibarat aku aja deh, nggak punya alat-alat untuk bikin camilan manis di rumah hahaha.
Tapi Blue Band memberi solusi dengan memperkenalkan resep-resep ‘No-Oven Baking’ untuk menciptakan camilan manis Idulfitri tanpa harus memakai oven. Ternyata pakai alat pengukus (kukusan) aja udah sanggup bikin camilan manis yummy di rumah lho!
Para penerima dibagi menjadi 6 kelompok dan kami ditantang untuk menciptakan camilan manis yang sudah ditentukan. Kelompok aku diminta untuk menciptakan camilan manis Putu Mayang. Awalnya clueless, galau harus gimana. Tapi kami diarahkan untuk ‘nyontek’ resep Putu Kanya di websitenya Blue Band.
Resepnya sangat terperinci dan ditulis dengan bahasa yang sangat gampang dimengerti. Kaprikornus kami eksklusif gercep (gerak cepat) untuk menciptakan camilan manis Putu Mayang.
Sambil menunggu Putu Kanya yang sedang dikukus, aku mondar-mandir merasakan kue-kue Idulfitri dari Blue Band yang tersedia. Resep-resep ini ternyata dikembangkan oleh Chef Anjani, semoga para ibu-ibu ibarat aku sanggup menciptakan camilan manis Idulfitri tanpa harus memakai oven.
Cukup terkejut sewaktu merasakan kue-kue tersebut, sebab rasanya benar-benar ibarat di oven! Kaprikornus nggak cuma ‘cantik’ buat di foto saja, tapi beneran yummy banget terutama kastengel dan nastar!
Oh iya, jikalau diperhatikan.. produk Blue Band yang digunakan ketika program kemarin memang berbeda dengan Blue Band yang biasanya. Blue Band Cake & Cookies ini sanggup digunakan khusus untuk menciptakan kue. Kemasannya juga sedikit berbeda, dengan aksen tutup kemasan berwarna oranye dan gambar camilan manis pada kemasan.
Untuk mengakhiri acara, MC mengumumkan siapa pemenang dari lomba menciptakan kue. Gak taunya, kelompok aku jadi juara pertama hahahaha. Sumpah kaget plus senang! Kami sanggup hadiah panggangan untuk bikin camilan manis di rumah, hore! Benar-benar final pekan yang sangat menginspirasi, makasih Blue Band!
Untuk teman-teman yang mau coba #ResepMudahMeriah ‘No-Oven Baking’ juga sanggup eksklusif cek di websitenya Blue Band ya. Dijamin yummy :)
By: Admin Infoon May 18, 2020/comment : 0Event,
Personal
Kondisi badan yang kurang fit tidak menghambat aku sore itu untuk pergi keluar rumah. Dari rumah ke kawasan Senopati, nggak terlalu jauh lah untuk saya. Biasanya jikalau sedang dalam kondisi kurang fit, aku lebih menentukan untuk memprioritaskan diri sendiri ketimbang hal lain.
Sore itu tekad aku sudah lingkaran untuk bertemu eksklusif dengan salah satu idola saya, Najwa Shihab, dalam program MeetUP yang dipandu oleh Ucita Pohan. Ini merupakan program MeetUP yang ketiga, sebelumnya aku dan Lizzie juga sempat menjadi nara sumber program tersebut.
Seperti biasa, setiap tiba ke program artinya aku bertemu dengan teman-teman baru. Seru! Nambah sobat sekaligus nambah wawasan dan ilmu juga. Pas banget, aku duduk hanya dua dingklik di sebelah Mbak Najwa jadi aku sanggup ngeliatin Mbak Najwa terus-terusan hahaha.
Acara dibuka hanget oleh Uchiet, dan menyerupai biasa para tamu yang tiba nggak sabar menunggu topik-topik yang akan diobrolin sama mbak Nana. Banyak banget hal-hal yang dibahas oleh Uchiet dan Mbak Nana, mulai dari karier Mbak Nana di jurnalistik, televisi dan sebagai komunikator.
Obrolan juga merambah ke bintang tamu Mata Najwa yang lucu-lucu menyerupai ketika dia mewawancarai Angel Lelga dan Rhoma Irama, hingga yang paling membekas buat aku justru ialah kebiasaan mbak Nana membaca tips menghilangkan mata panda buku dalam kesehariannya.
Banyak sekali ilmu, wawasan dan pandangan gres yang aku sanggup selama dua jam duduk semeja bersama Najwa Shihab, dan aku yakin teman-teman yang lainnya juga banyak yang mencicipi hal yang sama. Kalau biasanya aku melihat Mbak Najwa yang tegas di layar kaca, di program kemarin aku melihatnya sebagai sosok perempuan yang smart dengan pembawaan santai dan nggak pelit ilmu.
Sharing time dengan Mbak Najwa menawarkan aneka macam pandangan gres yang sanggup aku terapkan dalam kehidupan sosial dan sehari-hari, nanti aku akan ceritakan lagi di goresan pena selanjutnya. Thanks for reading!
Dua bulan terakhir, hari-hari aku dan Abenk ditemani oleh proyek #PlayInProgress. Rumah penuh serbuk kayu, garasi berantakan, Abenk nggak pulang-pulang, cat bertebaran dimana-mana, kendaraan beroda empat nggak dapat masuk garasi, tubuh pegal nggak karuan. Walaupun #PlayInProgress yaitu sebuah ekspo kolektif yang melibatkan Abenk, Muklay, Rebellionik dan Ican Agoesdjam, tetap saja aku ikutan riweh membantu Abenk di rumah.
Sedikit kisah wacana konsep ekspo kolektif ini, #PlayInProgress itu sebetulnya menggantikan kata “Work In Progress” yang biasa kami temui sehari-hari.
Menurut Abenk, sebagai pekerja kreatif sering kali terpenjara oleh ‘kerja’ atau ‘kerjaan’ dimana jikalau mindset kita ‘kerja’, biasanya kreatifitas sering terhambat dan proses kreatif juga nggak dapat all out. Sering kali, dalam mengerjakan sesuatu yang berafiliasi dengan kerjaan, ide-ide kreatif malah mandek dan ketika mengerjakannya juga kita nggak menikmati atau bahagia.
Ingat kan waktu masa kecil, semua proses kita anggap bermain? Dengan mengingat ‘main’ yang niscaya mindset kita selalu mikirnya senang, suka, enjoy dan fun.
Lewat kata #PlayInProgress, Abenk ingin bermain, eksplorasi, bersenang-senang sambil menuangkan segala kreatifitasnya lewat garisan khasnya dalam Fast Lines dan Smiley Faces. Nggak cuma itu, Abenk mengajak teman-temannya untuk ikut bermain di taman bermain yang berjulukan #PlayInProgress ini.
Karya-karya yang dipamerkan ikut mengingatkan kita sebagai insan cukup umur untuk tidak melupakan proses bermain dan juga meninggalkan inner child dalam diri kita. Pameran kolaboratif ini juga menjadi gentle reminder untuk para perupa dan para pengunjung. Terutama buat aku juga sih, tapi untungnya sehabis tetapkan menjadi lifestyle blogger setiap hari aku nggak merasa kerja.
Begitu lah kira-kira arti #PlayInProgress ini dalam bahasa ala Andra ya hehehe.
Banyak juga yang bertanya soal apa itu Fast Lines, Fast Lines sendiri sebetulnya coretan khas Abenk yang terinspirasi ketika Abenk menemani Aura menggambar setiap pagi. Disebut Fast Lines alasannya yaitu setiap berkreasi, Abenk hanya membutuhkan 5-10 menit untuk memenuhi kertas berukuran A3 sampai A1. Sedangkan untuk #PlayInProgress, Abenk mengerjakan Fast Lines hanya selama 3 hari.
Nah alasannya yaitu proyek #PlayInProgress ini cukup banyak karyanya, jadi aku ikut turun tangan membantu Abenk selama beberapa hari di rumah. Senang dapat bantuin suami, apalagi aku sudah bertahun-tahun nggak melukis sehabis lulus kuliah.
Sesuai dengan namanya, #PlayInProgress masih dalam proses pengerjaan. Artinya akan ada penambahan karya dari Muklay dan Rebellionik dalam waktu dekat. Pameran ini akan berlangsung sampai 31 Juli 2017 di Pop On Plaza Level 5, Plaza Indonesia.
Untuk yang ingin tau proses pengerjaan #PlayInProgress, dapat di tonton disini:
Sedikit tips yang ingin mampir ke #PlayInProgress:
Gunakan baju warna putih atau warna terperinci supaya hasil foto lebih menyala.
Tutup pintu ketika ingin mencicipi pengalaman bermandikan cahaya lampu neon dalam ruang pameran.
Mohon untuk tidak menyentuh karya.
Tidak membawa makanan/minuman masuk ke dalam ruangan.
Foto yang banyak dan selamat menikmati!
Kalau sempat mampir ya, take a snap and upload your photos using hashtag #PlayInProgress #PIP #AbenkAlter #PopOnPlaza. Thanks for your endless support guys!
Comments